Januari kemarin saya tiba-tiba dikontak oleh Mba Atik, katanya Pak Komang mantan Bos saya di kantor Jakarta mau kontak saya jam 8 nanti.

Eh, ada apa ini? 

Lalu telepon saya berbunyi, beliau menyapa saya di ujung telepon. Ternyata beliau pengen dibuatin ucapan terima kasih untuk pidato di wisuda doktoralnya nanti. Katanya pengen yang agak puitis dikit, dan denger-denger nama saya sering disebut soal puisi jadi beliau minta saya. Oke, dengan senang hati saya terima tawarannya lagian udah lama juga nih ga nerima order puisi HAHAHA.

Tapi, yang bikin syok, doi pengen malamnya paling lambat jam 10 malam tuh narasi harus udah disubmit ke doi. JENG JENG! Ya gimana yaa, masa iya saya tolak, jadi saya bilang aja saya usahain (jawaban paling aman, ye kan?)

Ucapan terima kasih menurut saya itu personal banget. Jadi, saya harus tau gimana sih perjalanan beliau waktu ngerjain ini, gimana perasaannya, gimana suka dukanya, in detail. Jadilah ada sedikit chat yang sangat personal, dan untungnya beliau terbuka nyeritain semua ke saya.

Dan, inilah ucapan terima kasih yang berhasil saya buat versi kebut. :))

***

Ucapan Terima Kasih Pidato Program Doktoral Pak Komang Aryasa

Setelah 16 tahun, ada rasa yang menggelitik. Rasa ingin memulai belajar kembali sejak menyelesaikan program Master. Bukankah belajar adalah yang selalu dan selamanya harus dilakukan sebagai manusia?

2013, langkah pertama menuju program doktoral ini dijejaki. Berhasil lolos dengan manis. Langkah demi langkah. Tangga demi tangga untuk menuju ke titik ini. Ada kalanya menjadi tangguh, meski terkadang di suatu titik, ketangguhan itu meluruh.

Prioritas antara belajar dan bekerja berada di titik persimpangan yang kadang diharapkan dapat berjalan bersama. Walaupun nyatanya, tidak. Ya, saya terpaksa berdiri pada dua kaki, belajar dan bekerja. Terkadang langkah ini maju untuk belajar, dan terkadang untuk bekerja.

Sebuah perjuangan yang tidak bisa dianggap sederhana. Banyak hal yang terkesampingkan  atau bahkan tergadai demi berada di titik ini. Titik yang saya yakin menjadi impian banyak orang, termasuk saya, yang kini terwujud. Sebuah gelar doktoral dari salah satu Universitas Terbaik di negeri ini, Indonesia.

Sabtu minggu, waktu yang biasanya menjadi oase di tengah dahaga lelahnya bekerja dengan menikmati cinta keluarga, harus tergantikan oleh cengkraman jurnal-jurnal yang membuat saya tidak bisa memalingkan wajah daripadanya.

Malam-malam yang biasanya saya terlelap untuk bermimpi, kini saya terjaga untuk menggapai mimpi. Bahkan ketika terlelap mungkin sebelum saya sempat bermimpi, saya sudah harus melanjutkan hari.

Berusaha menyelesaikan program ini, membuat saya lebih banyak menyendiri walaupun kadang berujung merasa sendiri, padahal selalu ada segelas kopi dan lembar – lembar revisi yang menemani. Rasa yang saya sendiri pun tak dapat mengenalinya.

Pernah beberapa kali saya merasa akan menyerah dan mundur. Tapi yang saya tahu, jalan menuju puncak tak pernah mulus. Melingkar. Terkadang terjal. Bukankah saya sudah bisa melewati lebih dari setengah perjalanan? Kamu bisa, beberapa langkah lagi. Kalimat dari istri tercinta, yang selalu menjadi konduktor semangat.

Rasanya luar biasa pada setiap ide yang tertuang, selalu ada manis yang terkecap.Terlebih, antusiasme dan bahagia selalu menghampiri saya setiap kali hasil survei kuisioner dalam program statistik mendapatkan hasil yang signifikan. Semua peluh, semua lelah, semua yang tergadai, terbayarkan.

Empat tahun, empat bulan. Cukup jauh sudah saya melangkah. Melewati waktu, mengukir cerita, mendobrak sejarah diri. Kini, saya sampai!

***

Selamat sukses Bapak untuk program Doktornya yg penuh perjuangan. Semoga ilmunya bermanfaat, dan terima kasih untuk souvenirnya.. Terima kasih juga sudah membuat saya kembali berkarya dengan kata.

Btw , katanya sih pas doi lagi bacain pidato banyak yang nangis denger ucapan terima kasihnya hihihi..

Souvenir Program Doktoral Pak Komang
Souvenir Program Doktoral Pak Komang
Advertisements